Indonesia Negeri Separuh Demokrasi

Mendengar nama INDONESIA pasti masih terbayang di memori kita akan PESTA DEMOKRASI lalu. Dimana 2 kubu saling bertarung untuk menduduki kursi RI1 dan RI 2. Saling hujat saling serang sampai Black Campaign pun tak terhelatkan oleh masing masing kubu pengusung parpol. Saya melihat ada tiga penyakit kronis akibat kualitas buruk demokrasi di dalam parpol. Pertama, relasi patron klien antara pemilik dan anggota parpol yang menyebabkan hanya lingkar dekat pemilik dan sekutunya yang bisa mencapai titik pengaruh di parpol. Kedua, biaya demokrasi yang mahal memaksa mekanisme transaksional terjadi di dalam parpol. Mereka yang punya dana lebih bisa mempengaruhi kebijakan. Ketiga, parpol gagal memenuhi kewajibannya sebagai perangkat penguat demokrasi, yang akhirnya menjadikan publik menjadi anti politik.

Setelah akhirnya pesta demokrasi selesai perhelatan masih terus berlangsung, yaitu tentang Penghapusan Pilkada Langsung. Pemilihan kepala daerah secara langsung tidak seharusnya diganti oleh penunjukan kepala daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) karena akan mengancam sistem demokrasi. Dalam pembahasan tersebut, para anggota Koalisi, yang memiliki suara mayoritas di DPR, menyetujui pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah seperti pada zaman Orde Baru, yaitu ditunjuk oleh DPRD. Alasannya sih selama ini penyelenggaraan pemilihan kepala daerah yang dilakukan secara langsung memang masih memiliki masalah termasuk boros biaya, dan sering berujung sengketa yang dibawa ke Mahkamah Konstitusi serta borosnya biaya.

Meski demikian, ya bukan berarti demokrasi Indonesia harus mundur. Harusnya pemilihan kepala daerah secara langsung tidak perlu diganti, melainkan diperbaiki karena perilaku penyelenggara pemilihan yang terkadang tidak mempunyai integritas. Karena penunjukan kepala daerah oleh DPRD akan menghasilkan para pemimpin kepala daerah yang tidak berkualitas karena dikhawatirkan terjadi politik transaksional di parlemen.

Kalo saya pantau sih “Lebih bersifat balas dendam dan sakit hati menurut saya. Sakit hari karena tidak lolos. Balas dendam karena misalnya diperlakukan tidak wajar oleh penyelenggara, Mahkamah Konstitusi dan macam-macam. Tetapi korban dari ini adalah masa depan demokrasi kita,”

Selama Indonesia masih bersepakat parpol adalah perangkat utama demokrasi, maka perlu ada upaya radikal untuk memperbarui parpol di Indonesia. Parpol perlu dibangun dengan landasan idealisme sebagai pengikat antar anggota dan mekanisme demokrasi perlu diterapkan di dalam tubuh parpol. Mekanisme pemilihan langsung itu sebenarnya adalah instrumen koreksi terhadap partai-partai politik yang dinilai masih belum mampu melakukan perekrutan dan seleksi yang baik terhadap calon kepala daerah.

“Kalau itu menyangkut biaya, high cost politic maka bisa dilakukan secara serentak. Kemudian pengaturan belanja kampanye dan lain sebagainya, kalau itu bisa diatur sedemikian rupa, ada kontrol yang kuat maka pada aspek itu kita bisa lebih murah juga. Dan karena murah pemilihan kepala daerah masih menjadi instrumen yang efektif,”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s